Richard Feynman


Tadinya saya berpikir bahwa menulis itu sebaiknya diarahkan untuk memahamkan diri sendiri, tapi setelah mempelajari sosok salah seorang ilmuan Amerika, Richard Feynman, rasanya apa yang saya sampaikan harus diperbaiki.

Kita tidak benar-benar tahu apakah apa yang kita pelajari sudah kita fahami atau tidak sebelum bisa menjelaskan dan memahamkannya pada orang lain. Saat mencoba mengajarkan tentang suatu ilmu pada orang lain, di waktu bersamaan kita belajar tentang hal-hal yang kurang atau terlewatkan dari apa yang dipelajari. Ketika kita bisa menyampaikan pada orang lain dengan sederhana atau dengan sebuah perumpaan yang mudah dipahami, maka kita sudah memahaminya.

Ilmuwan ini memiliki kepribadian yang indah, bukan gelar nobel yang dicarinya, tapi kemanfaatan dari petualangan yang dilaluinya.

“Tell your son to stop trying to fill your head with science — for to fill your heart with love is enough.”

Richard Feynman

Hmm.. jadi tertarik lagi dengan sains 😀

Advertisements

Mu’rab dan Mabniy


Mu’rab dan Mabniy adalah inti dari pembahasan ilmu nahwu.

Dalam Al-Quran ada kata-kata yang sering berubah harokatnya; terkadang dhommah, terkadang fathah,terkadang kasroh.

Contohnya adalah lafadz lafdzul jalalah

Dhommah: Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255)

اَللهُ لآَإِلهَ إِلاَّهُوَالْحَىُّ الْقَيُّوْمُ

Kashroh: Al-Fatihah: 2

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Fathah: Al-Baqarah: 153

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ…

Mu’rob adalah istilah untuk kata yang berubah-ubah kondisi akhirnya, baik berubah harokatnya atau berubah hurufnya. Pada lafdzul jalalah yang berubah adalah harkatnya, sedangkan kalimat َمسلمؤن dan َمسلمين yang berubah adalah hurufnya satu menggunakan و satu menggunakan ي.

Mabniy adalah kata yang tidak berubah keadaan akhirnya, apapun yang terjadi

Contoh mabniy misalnya هُوَ, sampai kapanpun akan tetap huwwa, ngga mungkin huwwi atau huwwu. هِيَ, selamanya akan hiyya, tidak akan berubah contoh lainnya مَنْ.

Semua huruf dalam bahasa arab, tanpa kecuali adalah mabniy.

 

Al Mubniy Al Murob.png

*https://youtu.be/d1GuejQHEqs?list=PLOeMiyFZeGMdQARArKur5nOJRMpjomP6n&t=93

Jangan Salah Arah


Setelah kamu selesaikan studi, maka lebih banyak pembelajaran yang didapat, apalagi jika kamu memutuskan untuk menggeluti bidang yang memang penting, bukan sekedar sesuai passion.

ya, bukan sekedar sesuai passion, karena passion yang keliru bisa jadi sebagai bentuk pemborosan hidup. Anggaplah jika passionmu adalah di bidang gambar menggambar dan menggeluti bidang pembuatan tato untuk lampiaskan hoby menggambarmu. Apakah itu bermanfaat? mungkin bermanfaat untuk sekelompok kecil penyuka seni rias tubuh, tapi apa dampaknya besar? apa lebih penting menggambar tato jika masih banyak bocah-bocah yang kelaparan? apakah masih penting habiskan diri berlama lama melukis tubuh sedangkan sampah kota masih menumpuk?

Tentu ada manfaatnya, tapi — kecil. Kamu dibuat sebagai sebuah pedang untuk menebas keangkuhan, tapi memilih untuk memotong rumput ilalang.

Bagaimana kalu ketertarikanmu akan seni ditempatkan pada kanvas yang lebih penting? Kamu bisa bantu percantik poster gerakan pemberian bantuan fakir miskin. Kamu bisa rancang bangunan dan menata kota sehingga selain fungsional juga memiliki nilai estetis lebih. Kamu juga bisa mengekspresikan lukisanmu untuk memberikan sindiran halus kepada mereka yang masih tak mau bergerak dan lebih memilih diam.

Ini bukan hanya berlaku tentang lukisan. Ini berlaku untuk setiap minat yang kau perjuangkan. Jangan salah arah.

Dua Hal yang Dibenci Al Quran


Iqroul quran fainnahu ya ti yaumal kiyamah, syafi’an liashabihi. Bacalah Al Quran, sesungguhnya ia pada hari kiamat akan menjadi penolong bagi pembacanya.

Ada sahabat yang mengadukan tentang kaumnya (siapa nama sahabatnya?).

Dua hal yang dibenci Al-Quran:

1. Mhjuuron. Orang yang lalai terhadap Al Quran

(وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا)

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”.
[Surat Al-Furqan 30]

2. Tahjuruna. Orang yang menghina Al Quran (Al-Muminun: 67)

(مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ)

dengan menyombongkan diri terhadap Al Quran itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari.
[Surat Al-Mu’minun 67]

21 Oktober 2016, Khutbah Jumat, Mesjid Al-Hidayah, Depok.

Cukup Bantu dengan Doa Biar Aku Lebih Dewasa


​Terus melangkah, untuk hal yang memang penting dan membawa manfaat. Begitu banyak nikmat dan perangkap syahwat, namun tak semestinya setiap jerat dibiarkan menangkap.

Akan ada waktunya, apa yang dulu dikejar malah datang tanpa diundang. Sabar saat berjuang dan rendah hati saat menang haruslah jadi pijakan.

Tak semua kita tahu diawal, keberanian yang bisa kalahkan diam tak berkembang. Berani karena takut, takut meminta-minta, takut diperbudak, takut sumberdaya tak bersisa, tanpa makna.

Perawakannya sama, bajunya tak ada yang istimewa, tapi kesempatan dan cara bersikap yang jadi pembeda. Yang satu hanya bekerja, yang lain diikat makna. yang satu hanya bercinta, yang lain ikut makmurkan nusa. Yang satu hanya bermain, yang lain rehat sejenak. Isi kepala dan besarnya guna berikan selisih berharga.

Kemenangan kecil. Tak apa dikasihi, bukan tuk berbangga ria, tapi tuk ungkap syukur padanya, tuk kendurkan syaraf-syaraf yang lelah menegang.

Sedekah ini, janganlah berlanjut lagi, cukup kau bantu dengan doa, biarkan aku dewasa, dengan sikap yang lebih tertata.

Perdjoeangan Kami


Horror ini bukan fiksi belaka, ini nyata.

Tentang sosok manusia, dengan idealisme yang tinggi.

Mereka begitu gagah, bukan karena parasnya, tapi karena niat dan tekadnya yang suci.

Tak tega rasanya melihat kepincangan negeri. Porak-poranda.

Kalaulah keangkuhan ini tetap berlanjut.

Izinkan aku tuk mengambil aksi.

Bersama kawan-kawan.

Pudarnya negeri ini,

Terkekangnya bangsa ini,

Tak boleh berlanjut lagi.

MERRRDEKA!! ALLOHU AKBAR!!!