Sungguh Beruntung Orang-Orang yang Beriman


Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu:

  1. Orang yang khusyuk dalam shalatnya
  2. dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) tidak berguna
  3. dan orang yang menunaikan zakat
  4. dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela, tetapi barangsiapa mencari dibalik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
  5. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya,
  6. serta orang yang memelihara shalatnya

Mereka itulah orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi (Surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

(QS Al-Mu’minun: 1-11)
Yaa Rabb, jadikan kami termasuk di dalamnya, Amien..

Lakukan Saja


Kapasitas seseorang dibangun atas dasar ketekunan dan disiplin yang baik. Beberapa tokoh negeri ini seperti Pak Habibie dan Pak Yohanes Surya misalnya. Mereka sepakat bahwa kemampuan seseorang terbentuk dari disiplin yang baik.

Jika hanya keinginan sesaat, mood saja yang dijadikan alasan beramal, maka kita takkan pernah bisa memfokuskan hasil yang ingin kita upayakan. Belum selesai rencana yang A, sudah berhenti sebelum dilakukan, alasannya ‘masih perlu belajar lagi’, padahal mencoba melakukan adalah bagian dari pembelajaran. Tak apalah kita gagal saat ini, asalkan gagal itu bisa diketahui dengan waktu yang singkat, hingga kita masih memiliki sisa waktu yang cukup luang untuk memperbaiki dan menyempurnakannya.

Jika para penulis buku bertindak hanya karena ‘mood’ saja, maka tak ada buku yang bisa diterbitkan lalu ilmu itu tersebar karenanya.

Jika pemuda flamboyan yang membenci pertempuran dan lebih suka bermain dengan hobi-hobinya tak memaksa diri untuk mempersiapkan jiwa dan raganya untuk berjuang, maka takkan ada Salahudin Al-Ayubi  yang menyebarkan Islam di jantung Yerussalem.

Jalan pemaksaan diri dalam maknanya yang positif. Sunnah kehidupan menegaskan adanya pintu keharusan dan pemaksaan. Bagi mereka yang secara sadar memilihnya, ada lompatan yang mengantar mereka pada mutu diri yang lebih tinggi. Berbuka terasa nikmat karena kita berpuasa. Yang manis terasa lebih menggigit karena kepahitan telah kita telan. ”Mawar merekah indah”, kata Jalaluddin Ar Rumi, ”Karena awan-awan merelakan diri jatuh ke bumi.”

Salim A Fillah

Jangan Lupa Sholat(?)


Bekerjalah yang tekun, dengan keras, keluarkan semua tenaga dan kemampuan berpikir tapi jangan lupa untuk sholat, jangan lupa untuk ibadah.

Mindset seperti itu keliru..

Harusnya;

beribadahlah dengan tekun — tapi jangan lupa untuk istirahat.

pelajari berbagai ilmu untuk keperluan akhiratmu — tapi jangan lupa untuk makan.

baca, pahami hafalkan dan amalkan Al-Quran — tapi jangan lupa untuk mencari rezeki.

(Ust. Hasan Zuhri)

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.. (QS. Al-Qasas: 77)

Usia kita di dunia paling sekitar 60 tahunan, tapi ikhtiar untuk mencari segala kenikmatannya seolah-olah tanpa henti, sedangkan kehidupan kita di akhir nanti adalah abadi, namun persiapannya tidak lebih dari setengah usia kita. Harusnya porsi untuk akhirat jauh lebih banyak daripada porsi untuk dunia. Ada yang bilang kalau kita terlalu sibuk hidup enak tapi lupa mempersiapkan mati enak.

Katanya harus seimbang antara dunia dan akhirat, kenyataannya sepertiga waktu kita habiskan untuk tidur, sepertiganya lagi untuk bekerja, belum lagi kalau ambil lembur. Lalu sepertiganya lagi apa untuk ibadah? engga juga, di kamar mandi satu jam sehari, nonton tv, main sosmed, perjalanan ke tempat keja / usaha, tidur siang,… ah … mungkin kita hanya sisakan 5 menit x 5 kali solat wajib saja untuk ibadah. Lalu dimana letak seimbangnya?

Kiat Menjadi Ikhlas


Apakah ada orang atau tidak ada orang, Allah ada?

Orang tahu atau tidak tahu, Allah tahu tidak?

Orang menghargai atau tidak menghargai kebaikan kita, Allah suka dengan kebaikan kita?

Apakah ada amal yang tidak diketahui Allah?

Apakah ada amal yang tidak dibalas?

Mungkinkah ada yang terlupa / terlewat / tertukar Allah membalas amalan kita?

Mungkinkah ada yang bisa menghalangi balasan dari Allah?

Mau orang menghina sampai dower, silahkan, yang penting urusan kitamah Allah Ridho.

 

Merasa


Al-Utsmani, salah satu lembaga Quran yang sangat direkomendasikan untuk memparbaiki bacaan Quran.

Salah seorang guru tahsin saya sebelumnya berkata, “Saya di kampung juara terus baca Quran, ketika ke kota dan mengunjungi salah satu lembaga Quran yang terpercaya, malah saya disuruh pulang kampung ‘Belajar lagi sana!’, kata pengajar di lembaga itu”.

Di Al-Utsmani ini saya merasakan apa yang guru saya rasakan. Kali ini saya diajar Ustadz SB, salah satu pengajar yang ‘legend‘ di sini. Hampir setiap ayat yang saya lafalkan salah dan saya merasa terintimidasi, bagaimana tidak, saya merasa apa yang saya bacakan sudah sesuai, bahkan mendekati apa yang ada di rekaman murotal dan guru ngaji saya sebelumnya juga tidak terlalu banyak protes, apa Ustadz SB justru yang salah(?). Saat dijelaskan, beliau menjelaskan dengan sangat-sangat rinci, sifat, makhraj, hukum, bahkan nama-nama hukum beliau ‘bedah’ sampai akarnya. Semua penjelasannya membuat kami melongo.

“Kalau kamu belum bisa membedakan antara suara A dan suara B, maka telinga kamu belum sensitif”

Kenyataannya suara A dan B hampir tidak bisa dibedakan -_-

“Ingat, jangan merasa disalahkan, Anda sebenarnya sedang dibetulkan, banyak murid yang merasa benar padahal mereka salah, saya juga pernah menjadi murid dan pernah juga mengalami kondisi keras kepala seperti itu, mereka yang merasa benar menutupi diri mereka dari ilmu, jadi jangan merasa benar, merasa.. merasa.. merasa, tapi harus memang benar benar benar, itu sebabnya belajar agama itu ngga cukup pake perasaan, harus dengan ilmu yang benar dengan dibimbing guru”.

Oke, Ustadz SB sepertinya bisa membaca pikiran saya yang agak ngotot(?). Maafken Ustadz 😀

Kenapa Mempelajari Bahasa Arab?


Oleh Ustadz Mirjani, Lc

Kenapa mempelajari bahasa Arab?

  1. Bahasa arab adalah wasilah ibadah. Shalat wajib lima waktu, jangan hanya berucap tanpa memahami maknanya, untuk memahaminya adalah dengan belajar bahasa Arab
  2. Bahasa arab adalah bahasa Nabi (Q.S. Asy Syu’araa’: 192-195)
  3. Bahasa arab adalah Mu’jizat Nabi yang abadi (Q.S.Yusuf: 2)

Niat yang tepat dalam belajar bahasa Arab adalah untuk menolong Agama Allah (Q.S. Muhammad: 7)

“Belajarlah kalian Nahwu sebagaimana kalian mempelajari syariat islam yang berupa sunnah dan wajib”

“Pelajarilah bahasa Arab, karena dia bagian dari agama kalian”

(Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu-)

Kepemimpinan Ala Nabi


Tugas pemimpin profetik adalah untuk memimpin ke penghambaan kepada Allah.

“Allah telah mengirim kami untuk mengeluarkan siapa  yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada hamba menjadi penghambaan kepada Allah, dan dari sempitnya dunia menuju keluasan dunia-akhirat, dari penyimpangan agama-agama yang ada menuju keadilan Islam.”

(Rubai bin Amir kepada Panglima Persia, Rustum)

Pemimpin profetik itu harus seorang yang berilmu, kuat, amanah (Al-Baqarah:247, Yusuf:22, Al-Anbiya’:79, Al-Qashas:26), memiliki daya regenerasi (Al-Baqarah:124) dan segala tindakannya dilandasi ketaqwaan.

Kalau kamu meyakini bahwa Tuhan kita bukanlah patung yang bisu, bukan matahari yang bisa terbit lalu terbenam, bukan bulan yang purnama lalu meredup, bukan sesuatu yang bisa terlelap dan fana. Kalau kamu meyakini bahwa agamamu, apa yang menjadi panduan hidupmu itu benar adanya, maka sampaikan dan tanamkan keyakinan itu pada anak-anakmu, seluruh keluargamu, seluruh orang yang kamu cintai.

Sering terdengar suatu kalimat kebanggaan, bahwa “Orang tua saya begitu demokratis, ia sangat terbuka, ia membiarkan saya memilih keyakinan saya sendiri.”, 

apakah itu sesuatu yang perlu dibanggakan?

Ketika orang tuamu membiarkan pikiranmu liar dengan dalih “demokratis” atau “terbuka”, maka sesungguhnya ia tidak memiliki kepercayaan diri atas apa yang dia yakini, dia tidak menemukan hal yang membuatnya bulat menetapkan apa yang diyakininya saat ini. Lebih dari itu, apakah sikapnya itu sebagai bentuk kasih sayangnya kepada kamu? Bukan, itu adalah bentuk ketidakpedulian. Ia tak peduli akan pedoman hidupmu dan ia tidak peduli akan kehidupan setelah kematianmu, ia tidak peduli apakah engkau masuk surga yang tenang, atau neraka yang penuh kegaduhan.

Jangan sampai keturunan kita hanya menjadi anak biologis kita tapi bukan anak ideologis kita.
Bachtiar Firdaus

Referensi:

Prophetic Leadership, Bachtiar Firdaus