Bangun. Membangun.


Hari ini kamu dibangunkan olehnya, seseorang yang begitu santun, peduli, dan sangat berempati atas semua keluhan-keluhanmu.

Hari ini dia yang membangunkan, tapi tak selalu dia yang bangun lebih awal. Terkadang temanmu yang lain, tapi ketika temanmu yang lain itu bangun, kondisinya berbeda. Ia bangun hanya untuk membuka telepon genggamnya, melihat-lihat barangkali ada pesan yang masuk. Setelahnya, ia pergi ke kamar mandi, berwudhu, dan sholat. Sendiri. Pikirnya, suara adzan harusnya sudah mampu bangunkan temannya yang masih tertidur. Pikirnya, tak perlu repot-repot lagi bangunkan yang lain, harusnya temannya yang masih tertidur memiliki kemauan sendiri untuk bangun.

Ia pun pergi ke masjid. Sendiri. Meninggalkan yang lain dalam nikmat tidurnya, tanpa ada rasa bersalah karena tak membantu membangunkan, buang-buang waktu pikirnya. Dibangunkanpun tak akan bangun. Percuma.

Di kesempatan yang lain, engkaulah yang bangun. Temanmu yang lain masih terlelap. Kau pernah mengalami bagaimana rasanya tak dibangunkan, bagaimana rasanya tak diingatkan, seakan teman yang tak membangunkan dan mengingatkanmu itu tak ada, karena hadirnya dan tiadanya tak memberi pengaruh apapun padamu. Tapi sekarang kamu yang bangun lebih awal.

Akankah kamu mendiamkan mereka untuk terlalap tidur? sebagai bentuk balas dendam — mungkin.

Ataukah kamu akan membangunkan mereka? meskipun terlihat sia-sia?

Tentu insan terbaik adalah mereka yang membalas keburukan dengan kebaikan dan membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih besar lagi. Tentu kamu akan membangunkan mereka.

Lalu, siapa yang lebih dulu akan kamu bangunkan?
apakah temanmu yang pertama? yang membangunkanmu dan membangunkan teman-teman lainnya, atau yang kedua, yang nikmat bangunnya hanya dinikmati untuk dirinya? Tentu kamu akan lebih senang membangunkan temanmu yang pertama. Kenapa? Karena dengan ia bangun, maka kamu tahu, dia akan membangunkan temannya yang lain.

Dan Allah pun melakukan hal yang sama untuk makhluknya. Saat mereka yang diberi nikmat membagi nikmat itu pada makhluk lainnya, maka Allah akan memberinya nikmat yang lebih besar lagi, karena Allah tahu, kamu akan memberikan kemanfaatan yang lebih luas ketika Ia memberikan nikmat-Nya.

“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
(Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s