Mengubah, Menambah, Menghapus


​Jadi pengusaha itu bukan untuk mengurangi jam kerja, tapi membawa aktifitas sehari-hari untuk tetap berusaha, dari awalnya kerja jam 9-5, sekarang bisa jadi 24/7, yang penting itu penyeimbangan, alokasi agar semua peran penting bisa terisi peran sebagai ayah, anak, pemimpin, masyarakat, akademisk dan yang lebih penting peran sebagai orang bertaqwa.

Inginnya sih tidur, nonton, leye-leye, tapi jika perahu sudah dibakar, yang ada hanya dua jalan; menang atau tenggelam.

Perlu cermin untuk mengukur seberapa jauh kita melebihi batas, seberapa kecil kita berupaya, seberapa pantas tuk dapat ridho-Nya.

Melawan diri itu perlu, tapi tetap saja meminta restu-Nya itu mutlak. Meminta dalam doa itu berkah, tapi tanpa usaha, itu namanya bukan doa, tapi perintah. Makhuk tak sopan mana yang berani memerintah penciptanya?

Berbuat itu terasa, tapi tanpa ilmu, jalannya kan begitu lambat, bahkan sia-sia, jika salah niat yang bimbingnya.

Berilmu itu menenteramkan, tapi tanpa kerja nyata, ia hanya retorika, hanya tumpukan kerumitan yang bertumpuk di kepala.

Cahaya apa saja, semua ada. Lengkap, dalam dan siaga. Hanya perlu arahkan pada titik yang tepat, tempat merubah ke kebaikan, menambah ke kekurangan, menghapus ke kebodohan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s