Nabawi dan Suara Langit


“Di sinilah tempat singgah, Insya Allah”

Kalimat yang terucap saat Rasulullah SAW singgah di rumah salah seorang penduduk Bani An-Najjar, Abu Ayub. Disitulah tempat beliau menetap sementara.

“Ya Allah, tidak ada kehidupan lebih baik kecuali kehidupan akhirat. Maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin”, seraya memindahkan bata dan bebatuan di tempat unta tadi menderum. Inilah Masjid Nabawi.

“Para pekerja ini bukanlah para pekerja Khaibar. Ini adalah pemilik yang paling baik dan paling suci”

kalimat pemompa semangat yang berbalas,

“Jika kita duduk saja sedangkan Rasulullah bekerja, itu adalah tindakan orang yang tersesat.”

Dindingnya dari batu bata yang disusun dengan lumpur tanah, atapnya dari daun korma, tiangnya dari batang pohon, lantainya menghampar dibuat dari pasir dan kerikil-kerikil kecil. Beliau juga membangun beberapa rumah disisi masjid, itulah rumah keluarga Beliau.

Masjid itu tak sekedar untuk laksanakan shalat, tapi juga; sekolahan, balai pertemuan, tempat tinggal orang Muhajirin yang miskin, juga merupakan gedung parlemen untuk bermusyawarah dan jalankan roda pemerintahan.

Masa awal hijrah ini juga mulai disyariatkannya adzan, sebuah seruan menggema di angkasa, menghangatkan seisi bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s