Harusnya — waktu itu — mendewasakan.
Membuat yang begitu kekanakan menjadi lebih paham bahwa kekurangan itu pasti ada.
Membuat sifat membatu menjadi lebih lunak, karena tahu, satu waktu diri kan bergeser peran; kaya-miskin, pintar-bodoh, muda-tua, selamat-sengsara.

Tapi ada yang tak siap dengan kondisinya kini, ada yang tak mau menerima, bahwa kini ia bukan bocah lagi. Ada yang tak mau menerima, bahwa satu waktu orang-orang yang menina-bobokan, orang-orang yang jadi tumpuan kemanjaannya takkan selalu bisa menemani.

Suatu saat kau kan bertumbuh,
Suatu saat kau kan harus menguatkan pundak.
Beban-beban itu tak selalu berada di pundak yang sama.
Beban-beban itu suatu saat kan hampiri pundakmu. Dan jika ia jatuh dan kau tak peduli, maka kau belum mengerti.

Memilihlah untuk berusaha memahami, berusaha peduli, berusaha berbagi. Hingga sampai waktumu tiba, kau memang pantas beroleh sajian syurga, kau telah dewasa. Selalu, matangkan diri. Selalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s